gembira cuma di raut muka,
dalamnya tertanam sejuta rasa,
yang tak mungkin kalian mengerti,
antara aku dengan si pemilik bumi
sampai bila wahai manusia,
sedikit demi sedikit dimamah usia,
tertipu akan indahnya fatamorgana,
dialun lembut hinggakan terlena
sememangnya manusia bukan sesifat robot,
diikut telunjuk sehingga melutut,
disepak terajang langsung tidak merungut,
layanan setaraf dengan "anak punggut"
selama masih aku berdiri menggunakan sepasang kaki ini,
selama itu juga diri ini berpenghuni,
yang kejamnya aku hanya sedar ketika mana menyendiri,
dihulur sedikit imbuhan,jurus dicampak ketepi
maafkan aku wahai Penghuni,
bongkak,sombong diri ini tak dapat aku bendung lagi,
pupuskanlah segala anarki anarki ini, ilahi,
sebelum aku dibaringkan dalam liang lahad yang kekal abadi.
Amirul Azis
Tiada ulasan:
Catat Ulasan