hati kini mencecah seberat bertan tan kontena,
baru tiba sudah angkat kaki mahu beransur pulang,
singkat sekali percatuan detik rasanya,
aku seolah olah perlu disuntik ubat penenang,
supaya tenang menerajang bongkak si hiba.
wahai kasmaran,
kalau boleh aku teriak,biarlah teriak ku sampai kedalam,
cuma aku yang rasa bagaimana dipisahkan,
setiap detik aku hitungkan sehari semalam,
takut takut ada hari yang aku siakan.
walaupun layanan ini tak seperti diharapkan,
cukup sekadar lihat seribu ragam dan riak muka,
dari engkau wahai kasmaran,
aku tenang dari segala gundah gulana,
begitu hebat sekali engkau punya tamparan.
tertusuk spesis tajam itulah rasanya,
aku longlai disaat keluarnya engkau dari tanah ini,
terasa jauh berabad jaraknya,
munculnya penjahanam emosi,
sepi, itu adalah kedudukan aku untuk ini masa.
Amirul Azis
Tiada ulasan:
Catat Ulasan